Kisah Nyata! Akhirnya Jodoh Datang Kepadaku yang Serba Kekurangan Ini

THIS ADS by GOOGLE
Sosok pemuda luar biasa, sebut saja Iqbal, yang mungkin sempurna merasakan indah cinta dariNya. Walau berupa ujian derita dan kesulitan hidup, yang mungkin tidak semua orang bisa menghadapinya dengan begitu ikhlas nan sabar.



Terlahir dengan fisik yang kurang sempurna, tinggi badan yang tak lebih dari 100 cm, dan 2 pasang kaki yang tidak sama. Iqbal melalui hari-harinya dengan keikhlasan dan ketawadhu’an tinggi terhadap taqdir Allah untuknya. Tidak pernah mengeluh, atau putus asa. Tak ada rasa rendah diri, tapi tetap tawadhu’ dan begitu santun dalam pergaulannya.

Iqbal terlahir tanpa tahu siapa orangtuanya. Tinggal disebuah panti asuhan, hingga usia SMP. Dan mengikhlaskan dirinya keluar, disaat seharusnya ia menikmati bangku SMA, memberikan tempatnya untuk adik-adik yang datang ke panti asuhan dengan nasib serupa.
Melakoni hidup dengan perjuangan namun tetap memilih pekerjaan apapun yang halal. Dari seorang tukang sampah, penjual koran, penjual minuman di pinggir jalan, hingga akhirnya ia mengabdikan dirinya di sebuah masjid .

Allah pun membawanya menjadi seorang aktivis da’wah, yang tak pernah absen menunaikan amanah, dan selalu menjaga komitmennya nyaris sempurna. Sering ia yang menjadi motivasi para ikhwan ketika mereka stagnan dalam kefuturan dan merasa lelah melewati setiap episode perjuangan da’wah.

Ketika satu persatu para ikhwan menjalankan amanah, menggenapkan setengah dien. Iqbal tidak pernah memaparkan kegundahannya. Walaupun semua tahu, Iqbal juga hanyalah manusia biasa, laki-laki biasa yang Allah karuniakan keinginan untuk bisa membentuk mahligai rumah tangga bersama wanita shalihah.

Namun, sepertinya Iqbal mencoba untuk ” tahu diri” dengan keadaan dirinya. Maka dia pun tidak pernah mengutarakan keinginannya, bahkan walau hanya dengan kata-kata “kiasan”.

Suatu ketika, pernah ia ditanya. Adakah kriteria akhwat yang dia kehendaki sebagai istri? Iqbal hanya tersenyum malu. Jawabannya saat itu ,” Allah lebih tahu yang terbaik untuk saya, menikah atau tidak. Rasanya tidak berhak saya meminta atau menentukan, karena sudah terlalu banyak nikmat Allah untuk saya …”.

Subhanallah… inilah jawaban seorang Iqbal.
Semua tetap berusaha, berikhtiar menemukan taqdir siapa pendampingnya. Walau berkali-kali pula terpaksa harus menahan rasa. Memang tidak bisa memaksa para akhwat yang belum siap menerima kondisinya. Karena, bagaimanapun juga .. pernikahan pada akhirnya harus terangkum kecendrungan antara 2 pihak yang akan melakukannya.

Tapi janji dan Cinta Allah memang tak bisa menjauh dari hamba-hambaNya yang ikhlas dan selalu bersyukur atas semua taqdir yang ditetapkan padanya.

Seorang akhwat shalihah, dengan fisik sempurna, nyaris tanpa cela yang bisa saja memilih seorang ikhwan yang sekufu dengannya. Pada akhirnya mengazzamkan diri, mengikhlaskan diri untuk menetapi taqdir, menjadi bidadari untuk seorang akhi Iqbal.

Melewati proses meyakinkan diri, berkali-kali kami mencoba memastikan keputusannya. Dengan menjelaskan detail bagaimna dan seperti apa Iqbal sebenarnya, juga kepada keluarganya. Dan kehendak Allah memang tidak pernah kita bisa menduganya.

Aisyah nama akhwat itu, menjawab dengan mantap, ” Insya Allah… dia yang terbaik. Saya tidak melihat dari fisiknya. Tapi saya melihat ada mutiara indah dari Allah yang akan bersinar bersama saya di dunia dan akan mengantarkan saya bersamanya ke surga, Insya Allah…”

Sekali lagi .. kami hanya mampu bertasbih, bertakbir dan bertahmid. Pun dengan Iqbal setelah kami beritahukan tentang hasilnya. Seketika airmatanya mengalir deras. Terangkai dengan sujud syukur yang begitu lama…

Indahnya karunia kesabaran dan keikhlasan seorang hamba…
Aisyah, mungkin mutiara yang memang diperuntukkan untuk seorang “mutiara” seperti Iqbal. Ia menjadi sosok akhwat yang begitu luar biasa.. bukan hanya mengkondisikan dirinya, tapi mampu mengkondisikan keluarganya. Walau harus dengan perjuangan yang berat untuk bisa meyakinkan mereka bisa menerima Iqbal.

Selanjutnya semua proses pernikahan itu berlangsung dengan indah. Dan semua yang mengetahuinya pun tak lepas terus melafazkan tasbih dan syukur.

Betapa Allah tak pernah melalaikan hamba-hambaNya yang ikhlas, tak mudah mengeluh dan memiliki keyakinan utuh kepadaNya. MenjadikanNya satu-satunya tempat mengadu, tempat bersandar dan tempat memasrahkan asa dan keyakinan.

Iqbal dan Aisyah menjadi mutiara-mutiara indah yang mungkin keelokannya tak semua bisa melihat dengan jelas. Tapi Allah, tak pernah salah memilih makhluknya menjadi mutiara-mutiara penuh cahaya, walau ia berkubang dalam lumpur kekurangan”.

Mereka tetaplah mutiara. Hingga detik ini, sekian tahun Allah mengumpulkan mereka dalam mahligai pernikahan. Mereka tak pernah berubah. Semakin kokoh dalam biduk rumah tangga. Semakin kuat saling mendukung, tak surut dalam setiap perjalanan da’wah dan telah terlahir mutiara-mutiara indah dari mereka yang begitu santun, tawadhu, cerdas dan InsyaAllah, mereka azzam-kan menjadikan mutiara-mutiara itu bagian dari pengusung da’wah, dai-daiyah yang menjaga Al Qur’an dengan hafalannya.

Baca Lebih Lengkap di Halaman Selanjutnya:

THIS ADS by GOOGLE

Halaman Berikutnya: