Pengakuan Mengejutkan dari Ustad yang Dituduh Tak Mau Sholatkan Jenasah Pendukung Ahok di Musholla

THIS ADS by GOOGLE
Belakangan ini di Jakarta beredar kabar yang menghebohkan publik. Disebutkan jika jenasah seorang nenek yang sebelumnya diketahui memilih Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam Pilkada DKI Jakarta tidak disholatkan di musholla.



Dilansir dari liputan6.com, Hindun bin Raisman nama nenek yang meninggal tersebut sempat menjadi pergunjingan warga sekitar selepas mencoblos Ahok pada pemilihan gubernur beberapa waktu yang sebelumnya. Keterangan tersebut didapatkan dari pengakuan Neneng, putri bungsu Hindun.

“Kami ini semua janda, empat bersaudara Perempuan semua, masing-masing suami kami meninggal dunia, kini ditambah omongan orang yang kayak gitu, kami bener-bener dizalimin, apalagi ngurus pemakaman orang tuakami aja susah,” ujar Neneng, pada Liputan6.com di kediamannya, Jalan Karet Raya II, Setiabudi, Jakarta Selatan, Jumat (10/3/2017).

Neneng lantas menceritakan kronologi jenasah ibunya yang ditolak untuk disholatkan di musholla. Ia mengatakan jika ustadz bernama Ahmad Syafii, pengurus musholla setempat berdalih jika tidak ada orang di musholla yang menyolatkannya.

“Alasannya, nggak ada orang yang mau nyalatin (di mushola), padahal kami ini anak dan cucunya ramai salatin, tapi memang orang lain (warga lain) cuma empat orang (yang datang ke rumah),” terang Neneng.
Ia kemudian mengisahkan awal mula neneknya digunjingkan warga karena telah memilih calon gubernur yang dianggap penista agama. Neneng berkata jika pada saat Pilkada DKI, Hindun didatangi empat petugas KPPS karena memang kondisinya tidak bisa ke TPS.

“Pas pemilihan itu, Mak (Hindun) disuruh nyoblos, ya namanya orang tua udah nggak tau apa-apa, nyoblos asal aja. Kebetulan yang dicoblos nomor dua dan diliat sama empat orang petugas itu,” terang Neneng.

Neneng memang merasakan kejanggalan dengan cara pencoblosan yang bisa dilihat banyak orang tersebut. Meski demikian ia mengaku tidak ambil pusing.

Baca Juga: Yusril Tegaskan Jika Parpol yang Terlibat Korupsi e-KTP Bisa Dibubarkan

“Ya pas nyoblos itu kan terbuka, diliat orang banyak, saya ragu juga, bukannya nggak boleh diliat siapapun? Kan rahasi itu pilihan. Tapi, karena Mak sakit, ya udahlah, kami nggak ambil pusing, pokoknya nyoblos,” terang Neneng.

Menurut Neneng, sejak itulah malapetaka menimpa keluarganya. Keluarganya dianggap telah mendukung penista agama.

“Nyatanya itu yang bikin masalah, keluarga kami dituduh keluarga kafirlah, mereka anggap kami semua milih Ahok, padahal itukan Mak nggak tau apa-apa, asal nyoblos aja,” keluh Neneng.

Meski demikian, berdasarkan laporan yang turunkan tribunnews.com, Muhammad Safi’i yang merupakan ustaz di wilayah tersebut sekaligus pengurus musholla Al Mukmin menyatakan jika dirinya sempat memberikan ramuan untuk Hindun saat akan meninggal.
Muhammad Safi’i ikut mengurus segala sesuatunya terkait jenazah tersebut. Mulai dari mengumumkan di mushalla, hingga pemandian jenazah.

Meski demikian, ia mengakui jika tidak bisa memenuhi permintaan Neneng untuk menyolatkan jenasah di Musholla karena saat itu kondisinya hujan.

“Karena waktu itu hujan deras, bukan karena apa-apa, dan waktu itu sudah sore, anak-anak (warga) tidak ada, jadi shalatnya di rumah saja, saya yang ikut mengurus, saya tanggungjawab, ” ujarnya.

Bahkan ia mengaku sebagai pihak yang mencarikan ambulans agar jenazah bisa dibawa dengan aman ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) Menteng Pulo.

Sesampainya di pemakaman, ia juga yang memimpin doa untuk lamarhum Hindun.

“Itu juga ambulansnya ambulan Anies – Sandi, bukan ambulans dari RT sini,” katanya.

Ia mengaku kecewa atas berita yang menyebar. “Seumur-umur saya baru kali ini (dituduh). Padahal sebelumnya almarhum bapaknya (Neneg) saya juga yang mengurus, saya juga jadi bingung, sekarang banyak (wartawan) yang mencari saya,” katanya.

“Tidak betul (tuduhan Neneng), kewajiban orang Islam (terhadap jenazah) itu mendoakan, menshalatkan dan memakamkan,” ujarnya.

Baca Lebih Lengkap di Halaman Selanjutnya:

THIS ADS by GOOGLE

Halaman Berikutnya: