Hey, Air Yang Sudah Matang Jangan Direbus Lagi! Ternyata Ada Bahaya yang Mengintai!

THIS ADS by GOOGLE
Air adalah sumber kehidupan bagi makhluk hidup yang tinggal di bumi ini. Manusia bisa saja hidup beberapa hari tanpa makanan, tapi tidak akan bisa terlepas dengan air.



Air yang sehat perlu dimasak terlebih dahulu, yakni dengan cara memanaskannya hingga mendidih. Namun, cara ini tidak lagi sehat saat anda memasak air ini kembali. Kenapa? Dan apa saja yang akan ditimbulkan? Ini dia 3 bahayanya seperti yang dikutip dari inspiradata.

1. Arsenik

Arsenik dapat menyebabkan keracunan yang mampu melemahkan fisik secara perlahan selang waktu beberapa tahun, tergantung dari dosis arsenik yang telah masuk ke dalam tubuh. Selain itu, efek keracunan arsenik meliputi gangguan pencernaan, gangguan kulit, neuropati perifer, gangguan ginjal. Diabetes, penyakit jantung dan juga kanker.

2. Nitrat

Nitrat bisa ditemukan secara alami di tanah, air dan udara. Namun bahan kimia ini bisa berubah menjadi racun yang sangat berbahaya bila digunakan sebagai pengawet makanan atau saat terkena panas yang sangat tinggi seperti pada air yang mendidih.
Saat nitrat terkena suhu tinggi, maka ia akan terkonversi menjadi nitrosamine yaitu senyawa yang bersifat karsinogenik. Selain itu, nitrat juga sering dikaitkan sebagai penyebab berbagai macam penyakit seperti kanker usus, leukimia, kandung kemih, limfoma non-Hodkin, kanker ovarium, kanker tenggorokan, kenker perut dan pankreas.

3. Flouride

Telah banyak dilakukan penelitian mengenai konversi bahaya flouride dan keberadaannya pada air minum. Dimana faktanya adalah, memang kandungan flouride tersebut terdapat di dalam air minum dan bisa menjadi ancaman serius bagi kesehatan tubuh kita.

Universitas Harvard menyimpulkan hasil penelitian lebih dari 27 penelitian yang dilakukan selama 22 tahun terkait dampak paparan flouride terhadap fungsi neurologis dan kognitif pada anak-anak bahwa kandungan flouride yang ditemukan dalam air minum dapat mengakibatkan IQ rendah dikalangan anak-anak. Bahkan, hasil penelitian ini dipublikasikan dalam Jurnal Ilmu Kesehatan Lingkungan.

Baca Lebih Lengkap di Halaman Selanjutnya:

THIS ADS by GOOGLE

Halaman Berikutnya: