Miris! Cerita Pilu dari Sekeluarga yang Tenggak Racun Karena Tak Mampu Berobat

THIS ADS by GOOGLE
Satu keluarga di Desa Dinas Jero Kute, Bondalem, Kabupaten Buleleng, Bali harus mengakhiri nyawa mereka dengan tragis.



Diduga kuat penyebabnya karena tak sanggup membayar biaya berobat dan beban utang yang dipikul.

Keempat korban adalah Kadek Artaya (32), Kadek Suciani (27) dan kedua anak mereka masing-masing PWAS (6) dan KDCP (3).

Made Suardana (60), orang tua Artaya menuturkan kronologis kejadian. Kamis (23/2) pagi hari sekitar pukul pukul 04.00 WITA, seperti biasa Suardana hendak ke pasar. Saat itu, dia sempat melihat keluarga Artaya masih tertidur dalam satu kamar. Lampu kamar putranya itu juga masih menyala.
Sekembalinya dari pasar kira-kira pukul 05.50 WITA, Suardana kaget saat mendapati semua lampu di dalam rumah masih menyala.

Saat saksi mengecek di kamar korban, kosong. Kemudian saksi mencium bau gas, bergegas dia lari ke dapur namun tidak ditemukan kebocoran tabung gas.

Kemudian Suardana mengecek semua kamar, saat itulah dia mengetahui kamar di sebelah utara dalam keadaan terkunci dan tercium bau gas menyengat.

“Di rumah tiang (saya) ada tiga kamar. Awalnya anak tiang dan menantu serta cucu ada di kamar biasa. Mereka tiang lihat tidur sebelum saya ke pasar,” terang Suardana.

Lantaran merasa curiga, dirinya mendobrak pintu kamar dan didapati semuanya tidur menumpuk berpelukan di satu tempat tidur.

“Awal tiang tidak curiga. Saat tiang bangunkan, ada keluar busa dari mulut anak dan cucu tiang,” kenangnya sambil mengusap air mata.

Saat itu juga dirinya berteriak minta bantu keluarga yang tinggal di sebelah rumah. Sementara keluarga mencari pertolongan, dirinya mencari kelapa untuk diminumkan kepada para korban.
Saat itu keempat korban dalam keadaan lemas dan oleh warga dilarikan ke bidan yang ada di Desa Pacung, dan selanjutnya di bawa ke Puskesmas Desa Tejakula. Namun belum sempat dapat penanganan, satu keluarga ini sudah kejang dan meninggal dunia.

Kapolres Buleleng AKBP Made Sukawijaya, meyakinkan bahwa korban murni bunuh diri. Hal itu berdasarkan hasil pemeriksaan.

Soal motif cara nekat itu dilakukan dan bagaimana proses melakukan, pihaknya mengaku belum mengetahui mengingat keluarga korban menolak untuk dilakukannya autopsi.

“Keluarga mengiklaskan dan menolak untuk diautopsi. Ini murni bunuh diri, dugaan sementara minum cairan racun pestisida merek Diazinon di campur minuman bersoda,” beber Sukawijaya.

Dari olah lokasi, polisi mengamankan 1 botol obat pestisida yang masih ada sisanya serta dua botol minuman bersoda dan satu gelas kaca.

Pengakuan keluarga, anak korban yang pertama baru opname di rumah sakit akibat batuk yang tak kunjung sembuh. Ditambah lagi, istri korban juga tertular batuk-batuk.

Informasinya untuk biaya rumah sakit, pihak keluarga terpaksa harus mencari utang. Lantaran sejak pergantian kartu jaminan kesehatan dari Provinsi JKBM menjadi JKN, korban tidak sempat mengurus. Hal ini menjadi dugaan keluarga ini akhirnya mengambil jalan pintas.

Sukawijaya menuturkan, barang bukti sudah dikirim ke Laboratorium Forensik Polda Bali guna menguji sisa-sisa cairan yang ada di gelas.
“Kami sudah mengirim sampel sisa minuman yang ada di botol dan gelas. Kami ingin tahu yang diminum korban apakah benar racun atau zat kima yang mematikan,” terangnya.

Ditanya mengenai kasus ini, Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov Bali Dewa Made Mahendra Putra menjelaskan, timnya akan turun ke Tejakula Buleleng bersama tim reaksi cepat. Menurutnya, sebenarnya tidak ada warga yang putus asa karena sakit dan tidak berobat.

“Memang sebelumnya Bali memiliki program kesehatan gratis dalam Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM). Namun karena amanat UU, maka sejak Januari 2017 lalu, diintegrasikan ke JKN. Tidak ada alasan bagi warga untuk tidak berobat dengan alasan apa pun,” ujarnya.

Menurutnya, sekalipun sudah terintegrasi dengan JKN, Pemprov Bali masih tetap membayar iuran bagi warga yang bukan penerima bantuan iuran (PBI). Artinya, tidak ada warga Bali yang tercecer dalam penanganan kesehatan.

“Kita sudah bayar ke BPJS Rp 115 miliar. Jumlah ini diperuntukan bagi warga yang tidak masuk PBI, karena Pemprov Bali tetap menanggung warganya agar ter-cover JKN bagi yang bukan PBI,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kasus yang di Buleleng benar-benar mencoreng Bali karena ternyata masih ada warga Bali yang bunuh diri karena putus asa dengan penyakit menahun. Menurutnya, sosialisasi dengan warga selama ini sudah sangat maksimal. Beberapa di antaranya melalui baliho, media cetak, online, radio, televisi dan petugas yang terjun ke lapangan.

“Kita merasa hal ini tidak masuk akal, kenapa ada warga yang belum terintegrasi JKN, tetapi aparatnya diam saja,” pungkasnya.

Baca Lebih Lengkap di Halaman Selanjutnya:

THIS ADS by GOOGLE

Halaman Berikutnya: